Posted by: tupadopanggabean | 27 January 2009

Keselamatan

 

(Dikutip dari Buku Terpelihara Sempurna Dr Ruyandi Hutasoit)

Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari pada-Mu, ya Tuhan. (Kejadian 49:18)

 

Kalau kita bicara tentang Keselamatan, kemungkinan bagi orang Kristen yang telah hidup baru menjawab, bahwa Keselamatan adalah janji Allah mengenai kepastian kehidupan kekal di surga bagi orang yang percaya kepada Yesus. Selamat dari hukuman dosa. Selamat dari neraka”.

Bagi sebagian orang, mungkin akan berkata, “Kesalamatan artinya semua keadaan kita baik-baik saja. Sukses, keluarga dan hidup bahagia. Pintar, kaya, sehat”. Mungkin ini adalah jawaban dan orang yang membayangkan sedang diberi ucapan selamat.

Orang-orang dunia mungkin berkata, “artinya kita selamat dari bahaya, selamat dari kecelakaan selamat dari musibah, selamat dari masalah, selamat dari kejahatan, selamat dari kesialan, selamat dari teroris dan bom”. Ini pasti adalah harapan dari orang-orang yang sedang mengalami krisis.

Tapi bagi murid-murid Kristus, terutama yang telah mengikuti program pemuridan yang kami adakaan, atau lulusan dari STT Doulos mestinya bisa memahami lebih baik lagi, yaitu keselamatan sempurna mengandung segala hal diatas, secara lengkap.

Keselamatan roh, jiwa, dan tubuh. Keselamatan roh artinya hidup kekal di surga. Keselamatan jiwa artinya kita bahagia dan mengalami damai di bumi. Dan keselamatan tubuh artinya kita sejahtera secara jasmani maupun materi, sehat dan berkelimpahan. Singkatnya : terpelihara sempurna!

Kebenaran ini sesuai dengan Tuhan yang menghendaki kita terpelihara sempurna. Seperti firman Allah sendiri yang mengatakan : Semoga Allah damai sejahtera menguduskankamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. (1 Tesalonika 5 :23)

Jadi jelas sekali ini merupakan harapan, suatu doa Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Dimana disitu dikatakan, semoga Allah damai sejahtera menguduskan kita seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Saya turut berdoa supaya janji yang teramat indah tersebut digenapi atas hidup anda. Semoga Anda pun tepelihara sempurna. Tetapi jika anda tidak mengetahui artinya “terpelihara sempurna” bagaimana? Kita tidak bisa mendapatkan apa yang tidak kita ketahui keberadaannya, bukan?

Untuk mengetahai lebih jelasnya tentang terpelihara sempurna, silahkan membaca buku Terpelihara Sempurna, buku ini karya dari Ev. Dr Ruyandi Hutasoit, terbitan Bethlehem Publisher).

 

Posted by: tupadopanggabean | 3 July 2008

Menjadi Anggota DPRD

Beberapa hari yang lalu, seorang Hamba Tuhan dari Selandia Baru datang ke Jakarta mengunjungi Gereja Kami… Beliau sangat dekat dengan Tuhan, hal itu bisa saya rasakan kalau dekat dengan dia….

Kabarnya, ketaatanlah yang membawanya ke level tersebut, aku merasa betapa damai jika berbicara dengannya…. Tadi malam ketika kami dan Ps Ridwan Djaya, salah seorang pembimbing rohani saya, mengantar Ps Fergus ke Hotel. Saya mijit punggungnya… rasanya senang melakukannya…

Beberapa hari sebelumnya Fergus telah berdoa untuk saya, dan saya merasa mantap kalau Tuhan memberikan sinyal untuk bisa maju menjadi calon Legislatif dari PDS. Memang jauh-jauh hari saya sudah merencanakan hal ini, tapi saya sangat membutuhkan konfirmasi dari Tuhan…

Saya merasa terpanggil untuk bisa menjadi anggota DPRD, motivasi saya hanya satu, ingin menjadi berkat bagi warga Jakarta. Saya ingin menjadi panutan bagi warga Jakarta, dan mendorong anak muda agar memiliki visi yang positif untuk membangun bangsa ini……

Saya juga merasa terpanggil untuk memberikan sesuatu yang membawa dampak bagi pembangunan bangsa Indonesia melalui program-program keterpihakan kepada warga Jakarta, khususnya kaum yang termarjinalkan.

Saya akan melakukan setiap tugas-tugas dengan rasa bertanggung-jawab dan takut akan Tuhan… dengan kata Lain aku merindukan orang lain, gaya hidupku menjadi inspirasi bagi orang disekitarku….

Dibalik semua keyakinanku, aku sedang bergumul untuk kebutuhan secara Financial….. teman-teman dan rekan-rekan bahkan keluarga yang mengetahui keadaanku, sudah mulai mendakwa aku…. mereka katakan ”Gabe sedang Mimpi….” anggota DPRD hanya bagi orang-orang berduit… Anggota DPR-DPRD hanya milik orang yang kaya…. orang yang punya rumah, kendaraan mewah, uang ratusan hingga milliaran rupiah.

Oh…. sepertinya aku mulai ciut, jika dibandingkan dengan keadaanku, aku hanya punya motor yang diberikan jemaat melalui Pendeta di Gereja tempat aku dibesarkan secara rohani. Rumah masih  ngontrak dan hal yang biasa kalau kami telat membayarnya…

Sementara kebutuhan pendidikan anakku, seseorang yang ku hormati dan telah kuanggap keluarga/abang selalu mengirimkannya tiap bulan ke accountku. Ah… benar-benar aku memang ndak tahu diri…..

Tapi yang menjadi pergumulan dihati ini, bagaimana caranya agar lapisan bawah mendapatkan perhatian yang maksimal dan memberikan rasa nyaman kepada mereka. Aku sering menangis melihat anak-anak balita yang berkeliaran di jalanan, yang selalu tereksplotasi….. bagaimana itu bisa terjadi sementara UUD menyatakan, fakir miskin dan anak-anak terlantar dilindungi oleh negara…. bagaiman ini bisa terjadi….

Aku ingin kampanyekan, agar anak-anak mendapat pendidikan dan kesehatan yang layak. Bila penting aku mau membiarkan hidup ini dengan makan 1 - 2 kali saja sehari, dan jatah satu kali lagi aku mau berikan kepada salah satu anak-anak yang terlantar itu.

Saya sadar, tidak gampang untuk mengubah keadaan, paling tidak aku mau memulai dengan caraku bersikap. Aku tidak akan menerima sumber dana yang tidak jelas, dan aku akan memberikan pengaruh kepada anggota-anggota DPRD lain agar mau melangkah keluar dari zona kenyamanan itu…..

Tapi bagaimana aku bisa melakukan itu…. kalau financial menjadi ukuran? Namun aku bersyukur,  rasa percaya diri tetap ada didalam hatiku…. aku berpikir, saat inilah saat yang tepat untuk medemonstrasikan iman…… saatnya ketika aku sudah terpilih, hanya ada satu alasan yang bisa aku sampaikan……”Dengan kemurahan Tuhanlah aku bisa seperti ini….”

Posted by: tupadopanggabean | 6 June 2008

Tanah Wakaf

Tadi pagi salah satu saudaraku yang kuanggap sebagai orang tua, menghubungi aku… ceritanya ada sekelompok masyarakat merusak tembok belakang rumahnya…. tembok itu kini rubuh dan sebagian tembok rumah yang menghubungkan ke dalam rumah bolong-bolong, tampungan air diatas berantakan dan ada barang-barang yang dinyatakan hilang…. semua itu dilakukan sekelompok warga.

Penghancuran tembok belakang rumah milik keluarga , sebut saja namanya, MS . Membuat keluarga saudaraku ini down. Mereka tidak mengira sekelompok orang tersebut tega untuk membuat rumahnya berantakan. Akibat dari pengrusakan itu, keluarga MS melaporkan kejadian tersebut kepada Pihak yang berwajib (Polrestro Jakarta Barat). Dalam laporan itu disebutkan sekitar 20 orang merusak bangunan miliknya.

Menurut warga sekitar yang mengetehui kejadian pengrusakan ini, Persoalan ini bermula ketika warga setempat membersihkan tanah wakaf yang bersebelahan dengan tembok rumah milik dari keluarga MS. Warga memperhatikan bangunan dimaksud agak mencolok dibanding rumah-rumah disekitarnya. (Rumah Keluarga MS lebih panjang). Padahal menurut warga tadi, semuat Kavling di wilayah itu, sama ukurannya 150 M2. Akhirnya, warga melalui ketua RW dan Anggota Dewan Kelurahan setempat, mempertanyakan hal itu kepada bapak MS.

Dalam pertemuan itu, MS menunjukkan sertifikat yang dimilikinya dengan ukuran 190 M2. Sertifikat yang dikeluarkan BPN tersebut ternyata membuat warga tidak terima, mereka berkeyakinan ukuran tersebut adalah hasil rekayasa manusia. Entah siapa yang memulai, sekelompok orang tersebut melakukan tindakan pembongkaran sesuai dengan ukuran yang diyakini warga.

Setelah menghadiri pertemuan tadi sore (5/6) yang diadakan oleh pihak kelurahan yang dipimpin wakil Lurah Pegadungan Kecamatan Kalideres, saya menemui beberapa warga dan mendengar keterangan mereka, begitu juga dengan ketua dewan kelurahan. Dari semua yang saya temui, mereka menyayangkan penambahan bangunan tersebut. Sementara pihak keluarga MS tidak meresa menambahkan bangunan diatas tanah wakaf, tetapi sudah membangun rumahnya puluhan tahun dan sesuai ukuran tanah yang tertera di Sertifikat. Sertifikat itu di Keluarkan BPN saat program Ajudikasi, dasar penerbitan sertifikat adalah surat jual beli.

Yang menjadi pikiran saya, kenapa kejadian ini bisa terjadi…. masyarakat mudah sekali untuk melakukan tindakan penghacuran seperti itu… apakah tidak ada jalan lain…? begitu juga dengan keluarga MS apa benar-benar tidak tahu masalah itu…? saya hanya berharap, Keluarga MS dan warga bisa menemukan titik temu. Sesama mahluk ciptaan Tuhan, yang kelak pasti mati, kita saling mengasihi saja, karena tanpa itu, sepertinya sulit untuk kita bisa bersama-sama dengan Tuhan di Surga.

Saya setuju dengan saran salah seoran rekan, mendingan kita selesaikan masalah kita sendiri, memberikan pengampunan terhadap sesama, sehingga kita mendapat tempat yang mulia kelak. Daripada orang lain yang harus mendoakan kita agar mendapat tempat yang mulia itu….

Posted by: tupadopanggabean | 5 June 2008

MLM

Multi Level Marketing……….. MLM lagi…. MLM lagi….. kenapa sih teman-temanku selalu mengajakku bergabung MLM…. please deh…

Ah… sepertinya sudah ratusan kali kudengar kata itu. Entah kenapa aku benci dengan kata MLM dan benci dengan Bisnis itu. Padahal aku tidak pernah disakiti, dibuat rugi, ditipu, atau diperlakukan tidak adil oleh orang-orang MLM. (Kenyataanya, mereka malah bantu saya).

Lalu, kenapa aku bisa membenci dan menjauh dari komunitas ini….???? Padahal, teman-teman yang joint dengan MLM semuanya baik dengan saya. (Dibenakku.. mereka ada maunya) Yah Tuhan, betapa naifnya aku ini….. tapi aku masih tetap ndak suka dengan MLM…. Sepertinya, bagi saya nih…. komunitas MLM adalah kumpulan orang-orang “muna”. Buku panduan dijual-jual, pajaknya bagaimana itu ? Seminar jual-jual tiket, produk dijual mahal-mahal, dikenakan pajak ngak?. Begitu juga dengan masalah bonus…. kalau dapat bonus bayar pajak ndak….??? Menurut saya lagi nih, “ini pembodohan namanya….Saya mempertanyakan, kok bisa-bisanya Megawati menerima MLM Tienshi di Indonesia…….

Kalau mau benar, suruh anggota membuat NPWP, itu baru betul….. pendapatku nih…. coba bayangkan, dan simak, untuk bisa mendapatkan Bintang Delapan (*8) dengan TGS 8 Milyar PV (TGS-nya Gold Lion) sekitar 4.096 orang harus mengelurkan uang 2 juta rupiah untuk membeli produk Tienshi yang belum tentu produk tersebut bermamfaat bagi yang bersangkutan. (Suatu produk bermamfaat jika pemakaiannya dilakukan secara terus menerus/rutin).

Jika angka tersebut dikalikan dengan pembelian 2 juta maka jumlahnya mencapai Rp. 8.192.000.000. belum lagi ditambah biaya regitrasi Rp. 85.000 x 4.096 = Rp. 348.160.000. Yang paling saya tidak terima, ketika dihubung-hubungkan dengan pedagang asongan, penjual tahu gejrot, tukang tambal ban, usaha air tebu dll. Pedagang kecil ini seolah-olah mengerjakan sesuatu yang sia-sia. (buku pendalaman Marketing Plan Tianshi by Isa). Saya mau pertanyakan, dengan Rp. 2 juta bergabung dengan Tianshi plus 85.000 tadi, apakah member baru tadi sudah terjamin makannya setiap hari….? Kalau tukang nasi goreng, masih menjanjikan, kalau tidak laku dimakan aja bersama keluarganya…. benar ngak bung Isa ? bung atau ibu nih… hehehe….

Paling tidak, pikiran-pikiran inilah yang selalu bergejolak di otakku, akibatnya aku semakin tidak tahan dengan MLM itu, aku telah memusuhi sesuatu yang tidak pernah merugikan aku… padahal ibu Dr Margareth, salah satu dosen UI pernah ingatkan kami, katanya, manusia harus selalu positif thinking, dan inclusive. Sorry ibu yang baik….
Selain itu, aku mulai mencoba ingat, ada apa dengan MLM sehingga aku bisa benar-benar tidak bisa menerimanya… Mungkinkah karena, aku pernah mendengar ada orang yang sudah mengeluarkan uang banyak, ternyata ia tidak berhasil dan usahanya itu menjadi sia-sia? Menurutku, itu kesalahannya sendiri memasuki sesuatu bisnis yang tidak dimengerti… paling tidak, inilah jawaban untuk pertanyaanku… atau… orang yang gagal tadi memang ndak sungguh-sungguh atau tidak fokus, sehingga dia gagal…

Ah… kini aku semakin ndak mengerti, kenapa tiba-tiba aku kepikiran MLM. Apa aku sudah mulai “kemakan rayuan pulau kelapa” oleh orang-orang MLM ….? Yah ampun, betapa kotornya pikiranku ini…….!!! Tapi yang jelas… aku semakin ingin mengenal MLM ini….. Tapi jangan…. aku bisa gagal dan malah memperburuk keadaanku….(senjata makan tuan)

Memang, aku sudah melihat dan mendengar orang-orang yang sudah berhasil di MLM, seperti tadi, bapak Agus TL aku tidak tahu nama lengkapnya. Beliau termasuk orang yang sudah sukses di Tienshi salah satu brand yang dijalankan dengan MLM. Konon katanya, pak Agus ini Gold Lion Tienshi Indonesia, yang barang tentu sudah mendapat bonus, Mobil Mewah (Mercy), Kapal Mewah (yacht). Kabarnya di Indonesia sudah ada puluhan yang mencapai Direktur yang membawahi empat Gold Lion.. yang barang tentu sudah mendapatkan semua fasilitas yang diperoleh dari bintang 8 keatas, seperti bonus prestasi 40%, bonus perkembangan 37% dll.

Btw, menurutku, pak Agus boleh juga, orangnya sangat familier dan “rendah hati” aku tidak tahu apa sikap itu dibuat-buat. Tapi menurutku… beliau bisa dijadikan panutan dalam bisnis MLM. Saya tertarik juga dengan komentarnya tidak akan terlibat di Politik walaupun sudah mapan secara financial. Pertanyaan yang ada dibenakku, orang sekaliber pak Agus itu, kok masih mau bergaul dengan orang-orang biasa, dan memberikan dorongan agar sukses….? semoga saja, apa yang diperolehnya di Tienshi, dapat juga di sorga kelak…..

Tapi jujur, aku sangat salut dengan pak Agus yang satu ini….. dan aku jadi tertarik dengan MLM yang satu ini (Sepertinya aku harus joint). Tapi penghasilanku sangat terbatas, bagaimana bisa berkembang…?. Ah bodo amat, kalau mereka bisa, masa aku tidak bisa…. saya kira saya hanya perlu lakukan 7 (tujuh) langkah yang dianjurkan pak Agus tadi, aku yakin pasti aman dan bereslah itu…!!!!! Tolong bantu aku Tuhan untuk bisnis yang satu ini, agar aku jangan selalu mempermalukanMu, aku ingin menjadi berkat. Kalau miskin, mana bisa memberkati orang lain…

Aku bersyukur, sahabat baruku Malik mengundangku ke Pertemuan tadi di ruang Orchid lantai 6 Gedung Jakarta Disign Center. Aku sangat termotivasi jadinya, penilaiankupun terhadap MLM berubah, seandainya aku ikuti saran temanku tahun 2002 dulu, ketika ia bergabung dengan Tienshi, mungkin aku sudah sukses (Tapi Suandi temanku dan Istrinya Gotlan gagal juga tuh…. aku ndak tahu kabar mereka sekarang). Barangkali, inilah waktunya aku harus bergabung dengan MLM…..

Bang Malik, thanks untuk semuanya, aku tahu you sudah cepek mengajak gue, padahal ajakan itu untuk kebaikan masa depan gue. Saya kasih applus ama bang Malik yang terus mendorong aku agar joint. Padahal, teman baiku sudah ajak aku beberapa kali, bahkan ada dari Hongkong loh… tapi aku masih berat, saya jadi ndak enak juga ama dia. Jujur, setelah bang Malik memberikan masukan, aku jadi mau ikut pertemuan tadi. Pembicaranya sangat bagus, tapi MC-nya kurang mantap, pada prinsipnya akupun tertarik…. sekali lagi bang Malik, thanks for all. Kelak kalau kita sudah dapat Yacht-nya, kita bisa mancing sama-sama di laut…. hehehe…

Oke… mari kita kemon… langkah awal yang harus aku lakukan kira-kira apa yah… mungkin ini kali yah….

1. Ubah paradigma….. aku harus merubah pola pikirku ttg MLM. (Oke, I Love MLM, I Love Tienshi)

2. Persiapkan mental… (Siap ditolak…. tapi gue siap ngak sih..????? tapi harus siap)

3. Ikuti yang diajarkan pembicara (Pak Agus) lakukan ke- 7 (tujuh) Langkah tadi…

4. Sementara ke tiga itu dulu….

5. Berdoa Minta kekuatan dari Tuhan, agar semua nama yang ditulis mau dikunjungi dan semuanya closing…Amin…

Aduh sudah pagi neh…. ntar jam 8 aku harus jalan ama pak Ridwan ke Depertemen Agama, urusannya bukan masalah Monas loh…

T’rims

Posted by: tupadopanggabean | 2 June 2008

Perjuangan Guru Bantu Masih Buntu

Salam persaudaraan untuk semua anak Bangsa…

Sepertinya usaha dari guru Bantu yang ada di Jakarta masih akan terus buntu… Perjuangan guru bantu yang mengajar di berbagai sekolah di wilayah DKI Jakarta sepertinya harus lebih keras… sampai haknya didapatkan.

hari ini sebenarnya saya sudah atur waktu untuk bisa ikut rapat pengurus Guru Bantu di wilayah Cijantung. Salah satu pengurus Guru Bantu di Jakarta Barat mengajak saya, untuk bisa mendengar langsung keluhan dan harapan rekan-rekan guru yang nasibnya tidak jelas itu… sayangnya rekanku sepulang mengajar terlalu capek, sehingga dia harus batalkan pertemuan itu.

Memang, kalau dipikir-pikir capek juga ke Cijantung, sementara rekanku itu tinggalnya di Grogol Tomang Jakarta Barat. Apalagi dia mengendarai motor, sementara besok dia harus kerja lagi… yah, memang tidak bisa disalahkan juga. Aku tahu, hatinya memang ke Forum Guru Bantu tersebut. Dalam setiap perbincangannya kepada saya, dia mengatakan sangat kecewa dengan tindakan dari Pemprov DKI Jakarta. Peraturan Pemerintah yang sudah dikeluarkan, malah mentah di tangan Pemprov DKI Jakarta. Hasilnya membuat nasib guru bantu menjadi tak menentu.

Menurutku, Pemprov DKI Jakarta harus serius menyelesaikan masalah Guru Bantu ini. sebagai orang awam, tidak ada alasan Pemprov DKI Jakarta untuk menghalangi semua Guru Bantu yang sudah terdata di BKN menjadi Guru PNS. Tapi nyatanya, Pemprov tidak peduli tuh. Harusnya Pemprov DKI Jakarta memberikan jawaban yang jelas agar persoalan Guru Bantu tidak menjadi terkatung-katung sampai saat ini.

Selain itu, saya berpikir kok bisa-bisanya Peraturan Pemerintah dimentahkan oleh Pemprov DKI Jakarta ? saya tidak mengerti apa dibenak Pemprov DKI Jakarta. sementara di wilayah lain diluar DKI, semuanya mengacu kepada Peraturan Pemerintah tadi. Kuaota yang sudah ditentukan oleh pemerintah sebenarnya sudah cukup sebagai dasar Pemprov untuk mengangkat guru bantu menjadi PNS. Jangan-jangan Pemprov DKI Jakarta memang tidak peduli dengan nasib semua guru bantu di DKI.

Sementara wakil rakyat yang ada di DPRD DKI Jakarta sepertinya ikut-ikutan tidak memperhatikan nasib guru bantu ini. sebagai wakil rakyat, tentu harus membuat terobosan memperjuangkan guru bantu-guru bantu ini. Pertanyaan saya, kok mereka yang ada disana betah melihat dan mendengar keluhan para guru bantu itu sih…? atau jangan-jangan sudah merupakan hal biasa ada yang unjuk rasa, sehingga tidak bisa lagi membedakan unjuk rasa yang murni, mana yang ditunggangi (seperti yang sering disampaikan pejabat di negara ini).

Satu kali saya SMS saudara saya yang duduk di DPRD DKI Jakarta, kebetulan dia duduk di Komisi E. Komisi E ini tugasnya salah satunya adalah mengawasi Pendidikan, beliau adalah Drs Syahrianta Tarigan. Saya mempertanyakan, ada apa sebenarnya dengan Pemprov DKI Jakarta tidak mengabulkan permintaan guru Bantu. Beliau justru menyatakan, Pihaknya sudah berulangkali menyampaikan masalah Guru Bantu kepada Pemprov DKI, tetapi mereka (Pemprov DKI-red) tidak pernah memdengar, atau mengambil langkah serius…..

Berpijak dari pernyataan saudara saya itu, Pemprov DKI Jakarta memang sudah “tuli” sehingga tidak mau mendengar aspirasi dari guru-guru Bantu. Bagi saya pribadi, mungkin ini pandangan sempit, Gubernur DKI Jakarta memang tidak diberikan masukan yang cukup untuk menyakinkannya, agar membuat kebijakan melakukan sesuai dengan Peraturan Pemerintah dimaksud. Bisa juga Gubernur tidak mau mengambil kebijakan karena ketidak tahuannya. sayangnya Gubernur DKI Jakarta pertama yang dipilih Rakyat ini tidak berusaha untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi….

Kalau begitu terus…. sepertinya Guru bantu akan selalu mendapati Jalan Buntu

Posted by: tupadopanggabean | 2 June 2008

Wartawan Sejati

Membaca judul diatas, pikiran kita akan tertuju kepada pekerja surat kabar, elektronik, atau apapun namanya. Namun yang pasti, yang bersangkutan haruslah orang berpredikat sosial yang tinggi…

Pagi tadi, salah seorang rekan teman saya menemui kami, ceritanya dia ingin bergabung dengan team kami, di salah satu koran terbitan Jakarta. Menurutnya, dia sangat berpengalaman di Media cetak. Ia mengaku sudah menjadi wartawan sejak tahun 2002. Dia juga mengaku banyak koran yang meminta dan menerima dia menjadi wartawan. Bahkan dia menunjukkan kepada saya dua kartu pengenal Pers……!!!???

Saya banyak mendengar, ketika ia bercerita mengenal petinggi-petinggi di Negara ini. Menurutnya dia memiliki beberapa nomor Hp orang-orang penting, bahkan dia sebut beberapa nama, seperti Kapolri, Ketua KPK. “Kita sebagai wartawan harus menulis” ujarnya dengan semangat. “Saya selalu mengangkat berita-berita yang berbahaya” katanya lagi… dan banyak lagi yang dia katakan. Singkatnya ia mengaku seorang wartawan sejati….

Mendengar semua yang dikatakan, aku bertanya-tanya, sebenarnya Wartawan sejati itu seperti apa sih…? aku malu menuliskan semua yang dikatakan “rekan” baruku ini… katanya, wartawan gadungan, wartawan bangunan, wartawan bla…bla…bla….

Sejati…..

wah… sepertinya, setiap orang ingin mendapatkan predikat itu. ingin jadi pria sejati, ingin jadi suami sejati atau ingin jadi ayah yang sejati… yang jelas kata sejati memiliki predikat yang sangat tinggi tingkatannya..

Lalu bagaimana dengan wartawan sejati… adakah mereka yang menyatakan dirinya sebagai sosial kontrol itu, bisa disebut dengan wartawan sejati… bagaimana mengukur tingkat sejatinya seorang pekerja surat kabar…? Beberapa kawan katakan, wartawan sejati adalah, mereka yang bisa memposisikan dirinya sebagai sahabat dua belah pihak… objektif katanya…

Wah, apakah itu cukup menjadi acuan dari seorang wartawan sejati… “sepertinya belum cukup” demikian rekanku menanggapinya… menurut si Badu rekanku itu, wartawan, sejatinya, adalah mereka yang sudah memberikan hidupnya demi kebenaran suatu informasi…… menurutku pernyataan Badu ada benarnya… karena dia sudah membagikan informasi yang akurat…

Tapi, bagaimana jika berita “benar-benar, BENAR itu” sudah membuat seseorang terluka, malu dan menimbulkan pro dan kontra… apakah itu tidak lebih “ngeri” karena membuat sesuatu yang mengganggu ketenangan seseorang… “Wartawan harus bertanggung jawab” terhadap stabilitas umum, demikian Pak Rik salah seorang kenalanku yang bertugas di Samsat… menurutnya Wartawan harus bisa membedakan dan menimbang informasi yang pantas dimuat… ujarnya membenarkan argumentasinya. “Tidak semua informasi yang dianggap benar, pantas dimuat” simpulnya. “Wartawan yang bisa membenakan dan menyaring suatu informasi adalah wartawan yang sejati”. Tambahnya lagi.

Sepertinya menarik untuk membahas yang satu ini. Bagaimana sebenarnya menilai wartawan sejati… Saya berfikir dan mungkin pantas kalau bang Karni Ellyas dan bang Andi F Noya kuanggap sebagai wartawan sejati… tapi, cukupkah kemapanan seorang pekerja Pers itu dibuat sebagai acuan menjadi wartawan sejati….???

Lalu, bagaimana kita biaa menilai seorang pekerja Pers, adalah wartawan Sejati… dari tulisannya kah ? Kata rekanku, dari tulisan belum patokan, karena tulisan wartawan, selalu di edit redakturnya, jadi berita itu bukan tulisan wartawan seutuhnya….

Sebaliknya, tambah rekanku itu, banyak wartawan yang ingin menulis sebagaimana hati nuraninya, tetapi pada akhirnya, berita itu tidak dimuat atau tidak diturunkan oleh pemimpin redaksi, dengan alasasan tertentu…. jadi susah kalau dinilai dari tulisannya…

Lalu bagaimana sebebarnya….. apa acuan untuk menyebut seorang wartawan sejati….?

Hemat saya, penilaian wartawan sejati bukanlah berasal dari penilaian wartawan itu sendiri, tetapi dari penilaian orang yang menikmati karya wartawan tersebut. Wartawan sejati menurutku, justru wartawan yang tidak tertarik dengan anugerah atas karya yang dibuatnya. Tetapi akan lebih tertarik ketika tulisan yang dimuatnya bisa membuat pengaruh positif untuk pembangunan bangsa dan Negara….

Saya sebut diatas, wartawan sejatiku Bang Karni Ellyas yang kini di Berita one. Menurutku sangat beralasan pengakuan itu ditujukan kepada beliau. Alasanku adalah, karena Bang Karni Ellyas berani mengungkap kasus Pertamina. Hasil investigasinya membuat decak kagum bagi diri saya…..

Demikian juga dengan Bang Andy F Noya, acara Kick Andy yang disuguhkannya sangat membangun. Setiap sosok yang ditampilkannya akan menjadi sesuatu inspirasi bagi saya. Terus terang saja, saya sangat di berkati dengan suguhan Kick Andy. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menyebut Andy F Noya menjadi wartawan sejatiku…

Bagi setiap orang memang berbeda dalam setiap penilaian, namun yang pasti wartawan sejatinya mengedepankan kebenaran dalam menyuguhkan berita…….

Posted by: tupadopanggabean | 2 June 2008

Halo dunia!

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Categories